Bad is stronger than good ..? - Taufiq Amir
439
post-template-default,single,single-post,postid-439,single-format-standard,bridge-core-2.7.2,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-theme-ver-25.7,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.6.0,vc_responsive

Bad is stronger than good ..?

Bad is stronger than good ..?

bad-appleBanyak penelitian di bidang psikologi yang menemukan bahwa manusia cenderung punya bias negatif atas pengalamannya. Kita begitu perhatian dan khawatir atas hal buruk yang telah dan akan terjadi pada kita, sementara cenderung mengabaikan pengalaman baik. Penelitian Baumeister, psikolog dari Case Western Reserve University dan rekan-rekannya merangkum kecenderungan ini dengan istilah ?bad is stronger than good?*. Salah satu temuan dari penelitian mereka adalah? kita cenderung lebih mudah mengingat pengalaman buruk daripada pengalaman baik.

Apa implikasinya bagi kita? Yang paling sederhana adalah: Sementara pengalaman baik cenderung berlalu dari ingatan, yang teringat pun dengan segera disapu oleh ingatan akan pengalaman buruk. Seperti kabut yang perlahan menebal, pengalaman buruk itu membuat ingatan kita pada pengalaman baik samar sebelum lenyap atas pengalaman-pengalaman baik. Contohnya, pengalaman senang seorang pemasar asuransi yang baru saja diterima tawaran preminya di pagi hari, kalau siang dapat semprotan kata-kata kasar dari rekan kerja atau atasan, yang dibawa sampai kerumah hingga sore atau malam hari adalah yang terakhir.

Anda pernah merasakan gejala ini? Coba ingat lagi, apa yang mendominasi pikiran anda selama berangkat ke kantor di satu pagi. Puluhan hal-hal baik seperti pekerjaan kemarin yang lancar, laporan anak di rumah yang dapat nilai ujian bagus, atau malah 1 atau 2 hal yang bikin anda kecewa dan jengkel atau marah?? Alih-alih semangat ke kantor, perasaan cemas, terganggu, nggak sabaran lah yang lebih sering menemani kita. Kelihatannya memang tidak fair ?ya? Tapi itulah kenyataannya. Walaupun bisa jadi pengalaman baik dan enak kita lebih banyak, memori kita seperti teflon untuk semua itu. Tak ada yang melekat!

Kabar baiknya, cukup banyak praktik sederhana yang bisa kita lakukan untuk melawan ?ketidakadilan? itu. Dorong pikiran anda pada hal-hal baik yang membawa rasa suka dan bahagia. Paksa memori anda mengubah sifat ?teflon?nya dengan cara berikut:

Jadikan fakta-fakta baik yang sudah maupun yang sedang terjadi pada anda benar-benar sebagai sebuah pengalaman.? Rasakanlah dengan sungguh-sungguh. Banyak sekali hal baik yang kita lakukan luput dari perhatian kita karena dilihat ?biasa? dan ?remeh?. Badan anda yang segar and terasa fit pagi tadi, anak yang rapi dan wangi siap berangkat ke sekolah, jalanan ke kantor yang ternyata lebih lancar dari biasanya, rekan kantor yang tersenyum untuk anda berlalu begitu saja.Waktu anda menyudahi target-target kecil pekerjaan anda; selesai merespon email-email penting, berhasil mempersuasi tim kerja agar menggeser jadwal rapat, ?sukses menyudahi revisi proposal, dan sebagainya. Seringkali pengalaman-pengalaman baik ini berlalu dan tak anda hiraukan sehingga dampak positifnya minim sekali. Cobalah hirup lebih dalam rasa suka itu, persilahkan ia menyelinap masuk ke sekujur tubuh anda. Biarkan rasa itu ada pada diri dan emosi anda lebih lama!

*) Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323.