Kehilangan Passion; Waspadai tanda2nya

Passion-and-LeadershipPernahkah anda dihantui sebuah pertanyaan, ?apakah yang saya jalani selama ini sudah benar?? pertanyaan seperti kerap muncul ketika orang mencapai fase tertentu dalam hidupnya. Saat memasuki usia 40 an misalnya, saat melakukan pernikahan, menghadapi pensiun, menjalani pengobatan tertentu, saat ingin sekolah lebih lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, dan sebagainya. Bahkan, seringkali saat seseorang berada di situasi puncak kariernya. Orang mulai gundah, apakah ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Ada yang memaksa kita untuk memikirkan apakah piilhan yang kita ambil ini sudah benar dan sesuai dengan apa yangkita impikan.

Menghadapi situasi ini seringkali tidak mudah. Karena itu, bagi kebanyakan yang mengalami, cenderung untuk mengabaikannya saja. Tapi, orang yang seperti ini biasanya kemudian menjalani apa yang dikerjakannya dengan rata-rata dan alakadarnya saja ? mediocre kata orang Amerika. Apa yang salah sebenarnya bila orang seperti ini? Ya tidak ada. Kalau dia bekerja, tidak ada peraturan yang bisa memecatnya hanya dengan berperilaku dan bekerja mediocre. Tapi pada dasarnya orang seperti ini tidak memaksimalkan potensi dirinya. Dari sisi organisasi, organisasi tidak memperoleh ?high performance? dari karyawannya.

Mengalami situasi-situasi tersebut di atas, kerap dikaitkan dengan passion yang dimiliki seseorang atas pekerjaannya. Mereka kehilangan passion dalam bekerja. Apa yang harus diperbuat? Mau tidak mau passion itu harus dibangkitkan kembali. Diremajakan, direnewalkan. Merujuk buku Boyatziz, McKee dan Goleman (2002),harus ada tindakan Reawakening pada passion kita. Apalagi kalau kondisi itu dialami seorang pemimpin. Seorang pemimpin baru bisa memberikan inspirasi kepada para stafnya untuk bekerja dengan penuh passion. Lah, bagaimana dia bisa menyebarkan passion, kalau dia sendiri tidak memilikinya?

Apa yang harus dilakukan? Pertama kita harus melakukan evaluasi diri dan mewaspadai sinyal-sinyal kehilangan passion. Sinyal-sinyal ini memberikan indikasi, bahwa passion anda sudah mulai menyusut dan mungkin akan hilang sama sekali.

Waspadai Tanda-tandanya

Ada beberapa tanda-tanda yang harus anda waspadai agar anda tidak terjerumus ke dalam suasana yang membuat anda merasa, menjalankan pekerjaan seperti tanpa makna. Saya coba sarikan, masih dari Boyatziz, McKee dan Goleman (2002):

-?Merasa terperangkap;?perasaan ini biasanya hadir bahkan ketika anda menyelesaikan pekerjaan anda tapi merasa tidak ada makna yang berarti bagi anda. Anda merasa sibuk, tapi sebenarnya tidak, dan sekaligus merasa ada yang salah, sementara anda tidak tahu apa itu dan tidak bisa mengubahnya. Ada mungkin keinginan untuk mengubah semua ini dengan mencari pekerjaan lain, tapi mungkin itu penuh risiko. Apalagi bila kita memiliki tanggungan yang butuh kepastian dan keamanan.

-?Merasa bosan; seperti ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan pekerjaan anda. Kepuasan dalam pekerjaan, rangsangan intelektual, rasa riang, antusiasme seakan-akan entah dimana. Padahal, rutinintas, pencapaian kerja masih terjadi dari hari ke hari. Anda seperti disedot arus yang menjauhi anda dari mimpi dan harapan yang sudah dicanangkan.?Seringkali terjadi, seseorang bosan dengan pekerjaan tertentu, tapi malas mengakuinya. Ini tidak mengherankan karena seringkali ambisi serta kegigihan mencapai sukses menutup mata kita untuk mencari sesuatu yang sifatnya lebih bisa dinikmati. Sebagian orang sebenarnya kadang-kadang merasa bersalah karena seakan-akan bekerja terus dan mereka telihat sukses karena memiliki banyak hal secara material. Sebagian lagi memang menyadari tidak memiliki keriangan atau mendapatkan makna tertentu dalam pekerjaan itu tidak masalah, karena itulah harga dari kesuksesan mereka. ?Saya memang kerja untuk hidup saya dan keluarga,? alasan mereka. ?Buat apa mencari makna-makna lagi?? ?Soal makna carinya tidak di kantor, tapi di tempat lain???Orang seperti ini biasanya bekerja sangat keras sehingga membuatnya kehabisan waktu untuk menikmati hal-hal yang lain.

-?Merasa tidak berarti.?Kerap kali ada orang yang merasa bukan menjadi orang yang diinginkannya. Setelah mencoba melawan perasaan kecil hati, frustrasi dan bahkan sekadar kebosanan, orang akhirnya menyerah. Begitulah yang mereka rasakan; akhirnya menjalani saja rutinitas dari hari ke hari dengan kesadaran, itu bukan yang mereka inginkan. Baik itu pekerjaan, organisasi, departemen yang ada di sekitar nya selalu konflik dengan apa yang mereka dambakan.

-?Tidak tahan memegang prinsip.?Kita semua hidup dengan prinsip-prinsip. Tapi, ada kalanya orang merasa tidak ada gunanya mempertahankan prinsip yang mereka anut. Mereka tahu melakukan hal yang bertentangan dengan prinsipnya, tapi akhirnya harus dilakukan juga. Seringkali mereka memisahkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, sehingga yang dijalankan di kantor bukanlah prinsip yang mereka anut. Inilah yang membuat menerima dan bahkan menjalankan perilaku yang pada dasarnya mereka tidak terima di luar kantor. Pekerjaan sudah menjadi hidup mereka dan apa sasaran dalam pekerjaan mengalahkan segalanya. Mereka yang konon sangat menghargai nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga, tetap saja pulang larut dan kehilangan waktu untuk keluarga.

Banyak orang yang tidak menyadari hal ini. Atau, kalaupun mereka menyadarinya, seringkali mereka merasa tidak mampu melakukan apa-apa.

-?Ada panggilan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan sulit sekali anda tolak. Misalnya, seseorang merasa bahwa kariernya adalah mengajar atau aktif di kegiatan-kegiatan sosial. Panggilan seperti ini kadang-kadang tidak tertahankan bagia sebagian orang. Mereka segera berbuat dan mengambil tantangan baru itu. Mereka tiba-tiba merasa ini adalah hal bermakna yang harus mereka kerjakan dan tidak perlu menunggu lebih lama lagi.

Bila anda mengalami salah satu atau beberapa sekaligus dari hal di atas, berarti anda punya masalah dalam passion.

Nah, kini soal bagaimana mengatasinya dengan cara membangkitkan lagi passion tersebut. Mengapa anda harus bekerja mediocre kalau anda bisa memaksimalkan lagi diri anda? Mengapa organisasi harus menerima kinerja yang rata-rata dari karyawannya, sementara mereka selayaknya menerima yang high performer?

Artikel berikutnya akan berbicara bagaimana kita harus menyalakan lagi passion yang ada dalam diri kita?

Post Author: Taufiq Amir

Head of Management Program – Faculty of Economics and Social Science – Bakrie University I am passionate about teaching, researching and training.

Leave a Reply

Your email address will not be published.