Positive Psychology Movement; Awal mulanya?. - Taufiq Amir
73
post-template-default,single,single-post,postid-73,single-format-standard,bridge-core-2.7.2,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-theme-ver-25.7,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.6.0,vc_responsive

Positive Psychology Movement; Awal mulanya?.

Positive Psychology Movement; Awal mulanya?.

Beruntung ada Martin E. P. Seligman (University of Pennsylvania) dan Csikszentmihalyi yang dengan rekan2 nya mempelopori gerakan Positive Psychology. Sejak Artikel mereka muncul di Jurnal American Psychologist *), ide tentang Positive Psychology terus berkembang dengan pesat. Gerakan ini terus merambah juga ke Organizational Behavior, dengan munculnya Luthans dan teman-teman menggagas Positive Organizational Behavior. Kim Cameron, dan teman-temannya di University of Michigan, mempopulerkan gerakan ini dengan nama Positive Organizational Scholar. Apa yang sesungguhnya disampaikan Seligman di artikelnya tahun 2000 tersebut?

Di tulisan mereka yang berjudul Positive Psychology; an introduction itu, pada dasarnya Seligman dan Csikszentmihalyi sedang mengggugat rekan-rekannya para psikolog yang lain, bahwa fokus psikologi kepada hal-hal yang bersifat negatif, begitu dominan. Hal-hal yang berkaitan dengan penyembuhan penyakit lebih banyak. Fokus kepada hal-hal yang positif, seperti kegembiraan, ?optimis, harapan (hope), dan kreatifivitas jarang dipelajari.

Psikologi positif, adalah ilmu tentang pengalaman subjektif, sifat dasar individu yang positif, dan institusi yang positif untuk meningkatkan mutu kehidupan dan mencegah hal-hal yang menyulitkan manusia. Psikologi, menurut kedua orang ini, seharusnya juga mendalami mengapa anak-anak riang gembira, suasana kerja yang mendukung kepuasan pada karyawan, kebijakan-kebijakan yagn menghasilkan keterlibatan dalam masyarakat dan bagaimana orang bisa hidup dengan lebih baik. Dengan demikian, bidang bidang seperti: well-being, kegembiraan, kepuasan (di masa lalu); harapan, optimism (atas masa depan); dan flow serta kebahagiaan (di masa kini). Begitupula kapasitas untuk mengasihi, keberanian, resiliensi (kemampuan bangkit dari kesulitan), keinginan memaafkan, spirituality, wisdom adalah hal-hal yang bisa didalami dalam tingkat individu. Dalam tingkat Kelompok, kita bisa mendalami hal-hal yang baik dalam msyarakat, institusi yang mendorong individu menjadi warga masyarakat yang baik, bertanggung jawab, nurturance, civility, toleran dan bekerja dengan etis. Pendeknya, hal-hal yang baik dalam positif dalam kehidupan manusia.

Menarik untuk mendapati, keseriusan Seligman atas bidang ini berawal dari protes anaknya yang jengkel melihat ayahnya yang tidak bisa mengubah kebiasaan mengomel dan suka marah. Anaknya ingin Seligman berubah, seperti dia juga berubah untuk tidak mengatur ketawanya.ia Anaknya memberi inspirasi bahwa, ia harus fokus pada kekuatan si anak, bukan kelemahan.

Seligman jadi sadar bahwa membesarkan anak, kita berupaya menonjolkan kekuatannya ? yang disebut Seligman “seeing into soul” –, memperkuatnya, membinanya, dan membantunya untuk menuntun dirinya sendiri menghadapi berbagai kelemahannya dan berbagai tantangan hidup. Membesarkan anak, lebih dari sekadar memperbaiki apa yagn salah dengan mereka. Tapi, mencoba mengidentfikasi dan membina mutu terkuatnya, apa yang terbaik mereka miliki, dan membantu mereka mencari celah dimana mereka bisa hidup dengan kekuatan ini.

Begitupula, Seligman jadi sadar, sudah cukup lama ia menjadi orang yang terus mengeluh. Orang yang membuat kelabu hatinya sendiri, membuat mendung dalam rumahnya yang sebenarnya penuh cahaya. Sejak saat itulah Seligman memutuskan untuk berubah, dan mendalami psikologi positif.

Sementara bagi Csikszentmihalyi, kesadarannya atas perlunya Psikologi positif sudah sejak perang dunia II. Ia yang masih anak kecil kala itu, menyaksikan bagaimana kacaunya dunia dan betapa tidak menyenangnya kehidupan. Ia menyaksikan dengan heran, bagaimana banyak orang tua yang begitu sukses dan percaya diri menjadi helpless dan tanpa spkrit saat mereka tercerabut dari dukungan sosial mereka. Tanpa pekerjaan, uang, atau status, mereka begitu lemah. Tapi, ia juga menyaksikan ada sebagian kecil orang yang tetap penuh integritas dan tujuan meskipun kehidupan mereka hancur. Ketenangan yang mereka perlihatkan menunjukkan mereka tidak kehilangan harapan. Dan orang-orang ini, tidak selalu orang yang terkenal, berpendidikan baik, atau yang punya kecakapan. Hal ini membuat Csikszentmihalyi bertanya-tanya; Apa yang menjadi sumber kekuatan dari orang-orang ini?

Cerita sederhana ini rupanya mengawali perkembangan pesat psikologi positif, baik dalam bidang psikologi maupun dalam bidang manajemen dan bisnis, terutama perilaku di dalam organisasi.

*)Seligman, Martin E.P, Csikszentmihalyi, (2000), Positive Psychology; An Introduction, American Psychologist, Vol.55, 1, 5-14)