Enhance your positivity ratio ! - Taufiq Amir
64
post-template-default,single,single-post,postid-64,single-format-standard,bridge-core-2.7.2,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-theme-ver-25.7,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.6.0,vc_responsive

Enhance your positivity ratio !

Enhance your positivity ratio !

Cover Depan PositivitySetelah mengikuti pikiran Barbara L Fredrickson lewat berbagai artikel jurnalnya, termasuk juga artikel para peneliti Positive Organizational Scholarship yang menyitir penelitiannya, saya, dan para peminat positive psychology lainnya berkesempatan untuk mempelajari emosi positif lebih luas. Telah hadir buku baru karya Fredrickson yang berjudul Positivity. Lengkapnya, Positivity; Groundbreaking Research Reveals How to Embrace the Hidden Strength of Positive Emotions, Overcome Negativity. Fredrickson mengungkapkan berbagai temuan-temuannya selama 20 tahunan meneliti emosi positif di buku ini. Martin E. Seligman, pelopor psikologi positif, memuji wanita ini sebagai ?the genius of the positive psychology movement?. Sebelum membaca, dan bila anda ingin mengenal lebih jauh sosok Fredrickson, anda bisa mengeksplor lebih dahulu isi buku dan siapa Fredrickson ini di?http://www.positivityratio.com/

Positivity, dalam istilah Fredrickson bukan sekadar simplifikasi seperti ungkapan ?Don?t worry be happy?, atau ?berpikir positif?, tapi lebih dalam dari itu. Positivity diartikan sebagai serangkaian emosi positif ? mulai dari memberikan apresiasi hingga welas asih, dari amusement ke rasa riang, dari harapan ke rasa syukur dan macam-macam lagi. Jadi artinya lebih luas. Termasuk ketika individu memaknai hal-hal disekitarnya secara positif, sikap yang optimis yang memicu emosi positif, dan juga pikiran yang terbuka, bahkan sekadar suasana rileks. Positivity juga melingkupi situasi kita dalam berhubungan dengan teman, baik di kantor maupun dalam lingkungan yang lebih luas.

Buku ini terdiri dari 2 bagian utama dengan 12 bab. Di bagian I, bab1 hingga bab 7, Fredrickson menjelaskan tentang ?The good news about positivity?. Bahwa kita semua memiliki modal positivity karena unsur-unsurnya kita miliki, hanya seringkali tertutup oleh negativity kita. Di bagian ini juga diterangkan bentuk-bentuk dan dimensi positivity; juga bahwa Positivity sendiri bukanlah tujuan akhir, tapi merupakan perangkat bagi kita; untuk memperluas pikiran, membangun masa depan yang lebih baik, serta resiliens dari berbagai tantangan hidup. Pada bab 7, Frederickson menjelaskan tentang positivity ratio; yakni bahwa dalam banyak penelitiannya ia menemukan bahwa kita perlu 3 kali lebih banyak emosi positif untuk 1 emosi negatif yang kita miliki. Pada situs buku ini di atas, juga ada fasilitas untuk mengukur positivity ratio kita. Sambil anda membaca bukunya, cobalah luangkan waktu untuk menjalankannya. Jadi, pada dasarnya yang harus kita lakukan dari hari ke hari adalah menciptakan situasi dimana emosi positif kita lebih banyak dari emosi negatif. Itu semua yang kemudian yang menjadi bahasan dalam bagian II buku Positivity, yang diberi judul ?Raise your ratio?. Dari bab 8 hingga 12, kita ditunjukan dengan berbagai perangkat, untuk meningkatkan positivity, sekaligus untuk menurunkan negativity. Dalam banyak cara yang ditunjukkan oleh Fredrickson, bukan saja ia ambil dari hasil-hasil penelitian laboratoriumnya atas orang lain, tapi juga pada dirinya sendiri.

Di luar materi buku, hal lain yang menarik saya kira tentang Fredrickson dan buku Positivity adalah bahwa seorang ilmuwan peneliti perlu memperluas kiprahnya dengan menulis buku yang popular, sehingga wawasannya bisa dinikmati dan dipelajari juga oleh kalangan yang lebih luas. Sosok dan sikap seperti ini menurut saya harus menjadi impian setiap akademisi. Ketika ia mumpuni di satu bidang tertentu, tidak cukup hanya dengan mengujinya dengan tekun lewat proses ilmiah, dan output paper di jurnal akademik. Seorang akademisi/ilmuwan harus juga memperluas bahasan bidangnya, kepada masyarakat banyak lewat buku yang popular atau event-event lain yang menyebarluaskan temuan-temuannya. Ini demi manfaat yang lebih luas dari hasil penelitiannya. Walaupun tentu saja tidak semua bidang ilmu yang bisa dibuatkan wacana popularnya, tapi setidak-tidaknya harus ada upaya untuk kearah itu. Untuk konteks Indonesia, ini sebenarnya jawaban bagi para akademisi dan peneliti untuk tetap survive dan tumbuh dalam menjalankan profesinya. Saat ia mendalami dan mengembangkan ilmunya, ia juga sekaligus dapat membangun kariernya secara horizontal. Tidak hanya berkutat dalam kekakuan tuntutan keilmiahan, tapi juga melebar ke manfaat praktisnya untuk masyarakat. Dengan begini, seorang akademisi tidak perlu merasa harus tergantung 100% dengan institusi dimana ia berkiprah. Ia menjadi pribadi yang pakar dalam bidang yang ia minati, menyebarluaskan ilmunya, dan sekaligus juga berpeluang memperoleh kesejahteraan yang lebih baik.